Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2009

Liku-liku Hidup

AWAL REALITA (by:Rujiko)

Di Tepi Langit

Kemudian aku tertegun untuk melangkah lebih jauh. Kini nafasku sudah tak kuat untuk mempertahankan ini semua. Aku mencoba untuk bangkit kembali. Satu hal yang aku tak mengerti apakah aku masih mampu untuk merajut cita dan cinta. Di sisi hati ini sebenarnya amatlah lelah. Namun aku harus tetap bertahan walau semuanya sudah hambar. Dan kemudian akhirnya aku memutuskan untuk memahami makna ini semua. Tapi hati ini seperti tersayat dalam-dalam. Entah apa yang aku rasakan...tak karuan dalam benak ini. Sehingga ada dalam setiap langkah dan setiap waktu terlukis di sela-sela ketidak mampuanku. Aku harus bisa berdiri dan berlari sekencang mungkin untuk menjauh dan jauh hingga tak tampak. Kemudian aku tertegun dan berfikir di saat angin menerpa tiba-tiba..ada apa ini dalam diriku...kenapa aku harus seperti ini. Tidak..aku harus berdiri...dan harus. Toh semuanya tak ada yang mengerti....hanya aku dan Tuhanku.

Camar Di Gelombang Pasang

CAMAR DI GELOMBANG PASANG Ada di antara buih Tersibak angin di ujung cakrawala Nun jauh camar menari dan melayang Indah dan cantik dibawa angin gelombang pasang Kala itu pelangi merona penuh warna Nan indah dan anggun Bak irama nan merdu mendayu Disisi hati yang murni berseri Duhai yang jauh di sana Ada apa nian dikau Yang dulu bak camar itu Tak ada lagi nyanyianmu Duhai yang indah di sana Buai katamu hilang Rona menawanmu tertunduk Bak kehilangan kata-kata Camar yang indah Hidup ini indah Biar seperti air mengalir Ikutilah sayapmu tuk kembali terbang Duhai yang menawan hati Pandanglah Edelweis di sana Khan selalu abadi tuk tersenyum Bersama itu kau khan menemukan indahnya hidup (by:Rujiko)

Di Tepi Langit

DI TEPI LANGIT Kutelusuri hidup di antara realita Terpana indahnya kehidupan Yang selalu menyatu diujung pengharapan Untuk bisa menjadi harapan Itu khan selalu mencuat dibilik hati Sekecil cinta dan cita membara di ujung sepi Hanya setapak lentera merajut mimpi Indah memang dipandang mata Namun langit tak selalu terang dan biru Kala senja kala mendung Berbaur deru petir dan angin Hingga tiada sedikit kering tuk mengharap Kian khan ada berjalan Diantara tepian langit tuk memohon Pada yang di atas sana Tuk dapat menerangi semua realita indah itu Sempat bergeming dan lepas Meloncat dan akan jatuh hingga tak bertengger lagi Tepi langit itu suci Masihkah ada tempat di sana Walau hanya ditepian langit (by:Rujiko)